Sudah tanggal 1 (lagi)... Lagi-lagi sudah memasuki bulan baru, dan aku, tetaplah sama saja, (belum) ada yang baru...
Selamat tanggal 1 untuk Hari Buruh Dunia #MayDay semangat juang untuk buruh-buruh di seluruh dunia! Hari ini untuk pertama kalinya hari buruh menjadi hari libur nasional pula, selamat berlibur teman-teman yang menikmati hari libur... Sepertiku yang selalu menikmati libur, maklum, namanya juga PENGACARA ---> "PENGangguran banyak ACARA" ayayayayaaay.... *(ini tanpa bermaksud bengga dan membanggakan diri, ini #persoalan kawan! #menyedihkan) *abaikan!
#MayDay... Ibuku juga seorang buruh, buruh di rumah orang, alias pembantu rumah tangga (PRT) di negeri sebrang. Bukan main yang dilakukan seorang Ibu, demi kesejahteraan keluarganya, ia rela mengadu nasib dan meninggalkan anak-anaknya, bukan untuk mencampakannya, melainkan untuk mengubah kehidupan anak-anaknya lebih baik. Mak, semoga apa yang kau lakukan selau dihargai dan bermanfaat bagi orang disekelilingmu. Kau yang terbaik. Percayalah, kami bangga akan dirimu, meski kau (hanya) seorang "buruh".
Pun jadi inget pas kemarin sebulan lalu aku mencari kesibukan. dari yang namanya pengacara menjadi "buruh cuci" di usaha l*undry punya seorang teman, lumayan sih sebenernya upahnya buat jajan, seminggu, dua minggu, dst... kok semakin tak adil ya rasanya, kerja "ngoyoh", capek, dan melihat upah tak seberapa, ketika sakit kecapekan ku pikir dapat dispensasi, apalagi yang notabene-nya [meng]GAJI teman sendiri. Apalah arti uang, ya, seharusnya aku juga tak sebegitunya dengan hasil, karena yang tadinya niat "nyari kesibukan", namun niat yang berbelok menjadi "mencari kebutuhan", aku pun tak memungkiri, aku butuh upah lebih. But, nonsance! Semakin akhirnya terasa "miris", tau begitu tak ku biarkan diriku "ngoyoh", itu sebabnya, lebih baik mengundurkan diri, kecapekan dan berujung sakit, ketimbang rasa sakit semakin berkuasa karena kerja yang "ngoyoh", mending cabut deh! Haiisshh... hal yang ku anggap nyaman, eh berujung-lah... Yasudahlah... ah, aku emoh mengingatnya! #Miris *abaikan (lagi)!
Buat kalian para BURUH, semangat mencari keadilan dan penghargaan buat kalian. Tanpa usaha keras kalian, suatu PT/cuma sekedar lapangan pekerjaan kecil2an tak akan mencapai kesuksesan dan keuntungan berlebih. Selalu lakukan yang terbaik. Merdekaaa!
Dan selamat tanggal 1-an juga buat Cungkring pacar tercinta, sudah bulan ke-7, dan di mana ke-7 patut untuk dirayakan, seperti halnya para wanita yang sedang mengandung, dibulan itu sebagai perayaan keselamatan si jabang bayi sampai di bulan ke-9 dan segeralah terlahir dan kelak menjadi anak kebanggaan. begitu halnya kita, hubungan ke-7 yang (belum) mencapai usia matang, masih setengah matang dan pasti akan banyak ujian yang menerpa: rasa bosan, pertengkaran hal kecil menjadi besar, saling mementingkan ego, selisih paham, sampai rasa jenuh dengan apa yang ada. Cungkring, untuk ke-7 ini, bukan hanya kamu, aku pun berharap hubungan ini tak hanya mencapai diusia 8 bulan, setaun, ataupun 2 tahun, semoga selalu dan selama berjalan beriringan. "Let's walk together, stay together and be together and grow old together"
Cungkring, menu pacaran yang sudah ada, yuk diganti dengan menu yang lain, supaya cita rasa pacaran tak hambar dan selalu terjaga. Menyanyi pun demikian, menyanyilah dengan irama yang berbeda, semakin beda bunyinya akan terasa lebih nikmat untuk didengarkan. dan kita, akan selalu menikmati setiap cita rasa dan alunan irama yang merdu sehingga membawa kita pada sesuatu yang indah. Kita buktikan pada setiap orang yang "meragukan" akan hubungan yang kita jalani, mereka berhak menilai apa yang kita lakukan, namun mereka tak berhak menentukan apa yang kita lakukan. So, keep fighting for us! Yeeaah... ;))
-MdN-
Thursday, May 1, 2014
Monday, April 21, 2014
Mak'e Is Kartini
Happy Kartini's Day for my Mom and all of Mom's in the world's...
Saya tidak tahu persis makna (sebenernya) "Hari Kartini" itu seperti apa, bahkan melakukan hal yang secara simbolik pun tidak (pas perayaannya). Ah, rasanya memang bego saya ini. Namun sejatinya, "HARI KARTINI" itu adalah hari di mana emansipasi wanita, peranan wanita, bahkan segala apa yang wanita lakukan patut dihargai dan diapresiasi. Banyaknya pekerjaan Pria yang (sanggup) dilakukan oleh wanita, itupun hal yang amat sangat patut untuk ditelisik, dan sebaliknya hal berat dan mengagumkan yang mampu dilakukan oleh seorang wanita tak mampu dilakukan seorang pria manapun (tanpa terkecuali). Yaitu, MELAHIRKAN. Kita lahir dari sebuah rahim yang dimiliki seorang Ibu, tumbuh kembang besar menjadi anak yang dibanggakan pun berkat Air Susu Ibu (ASI). Bahkan, istilah pria adalah pencari nafkah-pun sekarang bisa dilakukan seorang wanita. Wanita memang mengagumkan.
Same like my Mother. Wanita yang kami (saya, Cak Put, dan Cak Abib) panggil dengan sebutan Mak'e. Wanita hebat nan tegar yang tangguh berjuang untuk kesejahteraan keluarganya, terkhusus anak-anak yang dicintainya. Emakku, wanita yang super kuat yang mampu berdiri meski diterpa gelombang besar. Emakku, wonder women bagiku dan kedua kakakku. Tak sedikitpun kiasan yang mampu melukiskan rasa bangga kami terhadapnya, namun yang jelas, kami, anakmu sangat mengagumimu dan bangga denganmu. I love you Mom :) Dan segala apa yang kau korbankan, semoga kelak akan ada balasan yang setimpal. Karena, kasih dan apapun yang kami persembahkan untuk membalas jasamu tak sedikitpun mampu mengganti segala perjuangan yang kau lakukan untuk kami, anak-anakmu. Senantiasa berbahagialah, Mak, demi kami, anakmu. Selalu ukir senyum bahagia untuk kami, anakmu. Dan tetaplah bersinar di hati kami. Kaulah Emak (Ibu) kebanggaan kami, kobar kebahagiaan yang tak pernah padam, dan semangat juang yang tak akan luntur.
*(sekali lagi) SELAMAT HARI KARTINI untuk para wanita hebat, wanita tangguh, wanita tegar, dan wanita perkasa di seluruh muka bumi. :)
Saya tidak tahu persis makna (sebenernya) "Hari Kartini" itu seperti apa, bahkan melakukan hal yang secara simbolik pun tidak (pas perayaannya). Ah, rasanya memang bego saya ini. Namun sejatinya, "HARI KARTINI" itu adalah hari di mana emansipasi wanita, peranan wanita, bahkan segala apa yang wanita lakukan patut dihargai dan diapresiasi. Banyaknya pekerjaan Pria yang (sanggup) dilakukan oleh wanita, itupun hal yang amat sangat patut untuk ditelisik, dan sebaliknya hal berat dan mengagumkan yang mampu dilakukan oleh seorang wanita tak mampu dilakukan seorang pria manapun (tanpa terkecuali). Yaitu, MELAHIRKAN. Kita lahir dari sebuah rahim yang dimiliki seorang Ibu, tumbuh kembang besar menjadi anak yang dibanggakan pun berkat Air Susu Ibu (ASI). Bahkan, istilah pria adalah pencari nafkah-pun sekarang bisa dilakukan seorang wanita. Wanita memang mengagumkan.
Same like my Mother. Wanita yang kami (saya, Cak Put, dan Cak Abib) panggil dengan sebutan Mak'e. Wanita hebat nan tegar yang tangguh berjuang untuk kesejahteraan keluarganya, terkhusus anak-anak yang dicintainya. Emakku, wanita yang super kuat yang mampu berdiri meski diterpa gelombang besar. Emakku, wonder women bagiku dan kedua kakakku. Tak sedikitpun kiasan yang mampu melukiskan rasa bangga kami terhadapnya, namun yang jelas, kami, anakmu sangat mengagumimu dan bangga denganmu. I love you Mom :) Dan segala apa yang kau korbankan, semoga kelak akan ada balasan yang setimpal. Karena, kasih dan apapun yang kami persembahkan untuk membalas jasamu tak sedikitpun mampu mengganti segala perjuangan yang kau lakukan untuk kami, anak-anakmu. Senantiasa berbahagialah, Mak, demi kami, anakmu. Selalu ukir senyum bahagia untuk kami, anakmu. Dan tetaplah bersinar di hati kami. Kaulah Emak (Ibu) kebanggaan kami, kobar kebahagiaan yang tak pernah padam, dan semangat juang yang tak akan luntur.
*(sekali lagi) SELAMAT HARI KARTINI untuk para wanita hebat, wanita tangguh, wanita tegar, dan wanita perkasa di seluruh muka bumi. :)
Friday, April 11, 2014
Yo Opo...?!
Menjadi diri sendiri itu susah. gimana tidak?! ketika keinginan hati selalu bertolak dengan pandangan dan apa yang orang lain pikirkan. I'm not a perfect person, but will do! itu sama susahnya berusaha mengerti apa yang orang lain inginkan namun tak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Persoalan! Paras, kelakuan, jabatan, dan segala apa yang dimiliki tak akan pernah luput dari penilaian orang lain, sekitaran kita. Let's see... ketika kita berbuat baik, yang orang lain pikirkan justru kita terlihat seperti riak dan carmuk (cari muka). Lagi, ketika kita tidak suka ataupun sepaham dengan pemikiran yang orang lain lontarkan, kita dianggap 'sok tau/sok pintar/sok-sok lainnya', padahal kita bermaksud memberikan solusi yang lain yang (mungkin) itu lebih baik dari apa yang ada. Lagi-lagi tentang persoalan! Susah dimengerti...
Hal itu yang telah ku temukan baru-baru ini ketika aku menginjak tanah kelahiran. tanah tercinta yang ku anggap tempat keramat melepas penat dari segala rasa yang ada. tak sepenuhnya problema. akan tetapi, aku yang notabane-nya "keras kepala/kothok/dan cenderung sensitif" sering tak terima tentang penilaian orang. syukur-syukur itu sebuah masukan, mungkin aku akan menerimanya. lha kalau itu adalah sebuah judgemean?! dan apalagi yang menilai (tidak benar) itu adalah sanak kandung kita sendiri. Terlalu!! Bukan tentang apa yang 'beliau' pikirkan, melainkan... ketika aku berada di depannya, 'mbok yaa' nggak usah pakek sindiran. aku mudeng loh daaap... manusia, manusia.. apa maumu? ku kasih uang? minta berapa? di mana-di mana sama, uang selalu menjadi tolak ukur di mana orang tersebut bisa dianggap (lebih) dihormati. tidak berhenti di situ.. bukan brmaksud dan ingin (merasa) aku paling benar, akan tetapi ketika melihat di sana-sini 'bergerombol' layaknya genk. itu pun, satu hal yang menjadi alasan mengapa aku malas untuk kembali 'pulang'. masalah mental, aku sudah biasa. hanya saja, selalu 'merasa berdosa' jika menjadi bagian di antara orang-orang tersebut. hal yang selalu menjadi 'tameng', yah indahkan saja, apa yang harus dibikin pusing dari apa yang mereka utarakan tentang(ku). Tak penting, toh bukan mereka yang memberiku makan, minum, dan uang jajan. yaah, terkadang miris jikalau melihat keadaan sekitar. hal 'bergosip' menjadi tradisi yang amat melekat, menurutku. iya, aku bagian dari mereka, dan aku tak memungkiri itu. seperti itulah rasanya... jika pulang akan ada hal yang menjengkelkan, dan ketika tak pulang justru merasa rindu *pulang malu, tak pulang rindu*. lagi-lagi persoalan...
*Bersambung....
Hal itu yang telah ku temukan baru-baru ini ketika aku menginjak tanah kelahiran. tanah tercinta yang ku anggap tempat keramat melepas penat dari segala rasa yang ada. tak sepenuhnya problema. akan tetapi, aku yang notabane-nya "keras kepala/kothok/dan cenderung sensitif" sering tak terima tentang penilaian orang. syukur-syukur itu sebuah masukan, mungkin aku akan menerimanya. lha kalau itu adalah sebuah judgemean?! dan apalagi yang menilai (tidak benar) itu adalah sanak kandung kita sendiri. Terlalu!! Bukan tentang apa yang 'beliau' pikirkan, melainkan... ketika aku berada di depannya, 'mbok yaa' nggak usah pakek sindiran. aku mudeng loh daaap... manusia, manusia.. apa maumu? ku kasih uang? minta berapa? di mana-di mana sama, uang selalu menjadi tolak ukur di mana orang tersebut bisa dianggap (lebih) dihormati. tidak berhenti di situ.. bukan brmaksud dan ingin (merasa) aku paling benar, akan tetapi ketika melihat di sana-sini 'bergerombol' layaknya genk. itu pun, satu hal yang menjadi alasan mengapa aku malas untuk kembali 'pulang'. masalah mental, aku sudah biasa. hanya saja, selalu 'merasa berdosa' jika menjadi bagian di antara orang-orang tersebut. hal yang selalu menjadi 'tameng', yah indahkan saja, apa yang harus dibikin pusing dari apa yang mereka utarakan tentang(ku). Tak penting, toh bukan mereka yang memberiku makan, minum, dan uang jajan. yaah, terkadang miris jikalau melihat keadaan sekitar. hal 'bergosip' menjadi tradisi yang amat melekat, menurutku. iya, aku bagian dari mereka, dan aku tak memungkiri itu. seperti itulah rasanya... jika pulang akan ada hal yang menjengkelkan, dan ketika tak pulang justru merasa rindu *pulang malu, tak pulang rindu*. lagi-lagi persoalan...
*Bersambung....
Monday, March 24, 2014
Pagiku...
(The Rain feat. Endank Soekamti)
Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius
Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki
Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Lama tak ku dengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tahu
Terkadang dia juga rindu
Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki
Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Hello Monday... Are you ready? yeaah... I'am ready....
Sudah Senin aja, dan aku? ah, masih sama. Nikmatin aja dah... meski sesungguhnya berat banget nih. Sudahlah, di-enjoy-in aja wes, streeeeeeeeesss!! --______-- Pagi-pagi nyalain tipi, eh ada lagu yang mengalun dengan nohoknya. Aiihh... itu lagu bisa banget deh ah... Hey kalian para mantan pacar dan mantan gebetan yang belum jadi pacar tapi nyakitin. Bagaimana hidup kalian? menyenangkan kah? semoga... I hope you all an happy everyday and everywhere... #uhhhuuuukkk|| Tak berhenti demikian, aku yang sekarang telah memiliki kehidupan baru dan jauh lebih menyenangkan. terima kasih kalian para mantan, yang dengan segala kehormatan telah mengajarkan aku bagaimana rasanya sakit, menangis, bahkan tawa yang kalian lakukan dengan cara kalian masing-masing. karena aku (sekarang) lebih bahagia, semoga kalian demikian. Salam damai sejahtera untuk kalian. God bless you all... :))|| "Tak satupun yang aku sesali... Hanya membuatku semakin terlatih" terima kasih...
Thank's to The Rain yang selalu menciptakan lagu yang bisa banget "ngena-nya". I love you song, all of song of you. *sambil nyanyi-nyanyi lagu lamanya The Rain*
Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius
Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki
Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Lama tak ku dengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tahu
Terkadang dia juga rindu
Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki
Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Hello Monday... Are you ready? yeaah... I'am ready....
Sudah Senin aja, dan aku? ah, masih sama. Nikmatin aja dah... meski sesungguhnya berat banget nih. Sudahlah, di-enjoy-in aja wes, streeeeeeeeesss!! --______-- Pagi-pagi nyalain tipi, eh ada lagu yang mengalun dengan nohoknya. Aiihh... itu lagu bisa banget deh ah... Hey kalian para mantan pacar dan mantan gebetan yang belum jadi pacar tapi nyakitin. Bagaimana hidup kalian? menyenangkan kah? semoga... I hope you all an happy everyday and everywhere... #uhhhuuuukkk|| Tak berhenti demikian, aku yang sekarang telah memiliki kehidupan baru dan jauh lebih menyenangkan. terima kasih kalian para mantan, yang dengan segala kehormatan telah mengajarkan aku bagaimana rasanya sakit, menangis, bahkan tawa yang kalian lakukan dengan cara kalian masing-masing. karena aku (sekarang) lebih bahagia, semoga kalian demikian. Salam damai sejahtera untuk kalian. God bless you all... :))|| "Tak satupun yang aku sesali... Hanya membuatku semakin terlatih" terima kasih...
Thank's to The Rain yang selalu menciptakan lagu yang bisa banget "ngena-nya". I love you song, all of song of you. *sambil nyanyi-nyanyi lagu lamanya The Rain*
Friday, March 21, 2014
WHAT SHOULD I DO?
Hai kau blogg-ku yang telah lama tak ku urus. Apa kabar kamu? Ah, rasa-rasanya sudah lama aku tak menjamahmu. Aku terlapau sibuk dengan urusanku yang tak kunjung kelar. Aih... But don't worry, kau tetaplah punyaku. Yah, karena hanya kamu yang mampu dan mau mendengarkan segala apa keluh kesahku. You are the best...
Today? ngomong-ngomong tentang hari ini, tak begitu menyenangkan. dengan kondisi yang masih diserang rasa "ngilu" (baca: sakit), hati pun ikut demikian. Sebenernya aku (selalu) berharap aku menjadi aku yang daahulu: cuek, mandiri, tak tergantung dengan siapapun. Yah, bisa berdiri sendiri. namun, rasa itu terbungkus seiring dengan moment yang pernah ku alami. Kalau aku kembali seperti dulu, lalu apa bedanya? Yang seharusnya adalah, aku berubah, tak seharusnya aku menjadi seperti dulu. Namun, ketika menjadi diriku yang saat ini, rasa-rasanya aku semakin kekanak-kanakan. Inginku sewajarnya saja. Inginku apa adanya seperti yang biasa. Eh tapi... semua berubah.
Semenjak memiliki hubungan dengan seseorang secara "berdekatan" jarak-ruang-waktu (baca: bukan LDR (lagi)) semua berubah. LDR? aku tak pernah mengeluh dengan hal itu. tapi rasanya, tak ingin lagi punya hubungan LDR. apalagi memakan waktu yang tak sebentar. rasa-rasanya juga, aku telah trauma. Namun, hubungan yang berdekatan pun tak membuatku jauh lebih baik. Bagaimana tidak. rasanya selalu ingin bersama. semua itu karena kebiasaan. dan aku telah terbiasa menikmati hari-hari bersama-nya. Salah? Tidak, ku pikir aku tidak salah jika berpikir aku ingin selalu bersama dia (re: pacarku). Siapa yang tak ingin bersama pacarnya. Aku sudah (pernah) ngerasain pacaran jarak jauh, dan rasanya itu ieeyuuuhh.... sudahlah, lupakan hal itu! aku pun tak ingin mengingatnya lagi. sakit. Eh tapi, rasanya ada yang salah deh dengan hubungan "berdekatan" ini. Buat apa hubungan berdekatan namun tanpa komunikasi? Lalu, ketika bersama yang ada justru pertengkaran. saling emosi. meninggikan ego masing-masing. dan sama-sama tak mampu mengendalikan diri masing-masing. sama-sama keras, sama-sama merasa benar. jika keduanya benar, lalu mengapa bertengkar? jika tak ada yang salah, lalu apa gunanya mengalah? Ah, bukan. Ini bukan karena aku lelah. Hanya saja, aku merasa ada yang harus diperbaiki jika tak ingin semua kebahagiaan ini hanya sekedar lewat, dan bahkan ini semu. Hanya Tuhan yang tahu, ke mana dan seperti apa hidup ini.
Baiklah, harus ada yang dirubah. Ehmmm... tepatnya, harus ada revolusi hubungan, biar kagak hambar, biar kagak membosankan dan berujung di....(?) ah, cekit kalau diucapkan. baiklah baiklah, semuanya akan baik-baik saja. semua akan indah pada waktunya. dunia ini ada di genggamanku. hidupku adalah milikku.
Semakin ke sini, aku merasa aku kekanak-kanakan. Eh tapi? kembali lagi, apakah salah jika aku salah jika setiap harinya ingin selalu bersama dia (re: pacar)? Yah, kalau memang salah, baiklah... akan ku ubah wacanaku, aku akan kembali menjadi diriku, yang kuat di kaki sendiri. Ah, tapi apa lacur, sepertinya semua terlambat. Aku telah terbiasa menikmati hari tak tanpa dia. Ah iya, tidak ada kata terlambat. semua bisa dikembalikan seperti semula. Aku hanya tak ingin menggenggam cintaku teramat erat. Karena aku takut, ia justru akan terlepas tak tersisa. Aku hanya akan menggenggamnya sekuat tenagaku, memberinya ruang untuknya menikmati yang ia inginkan. Mungkin juga, saat ini bukan hanya aku hidupnya, bukan hanya diriku yang memilikinya. Aku akan membiarkannya berlari, bukan untuk meninggalkanku, melainkan berlari merengkuhku dengan cinta yang seutuhnya. Ya, suatu saat nanti. Hari itu akan tiba. Untuk saat ini, biarlah kau menentukan apa yang kau mau. Apa yang terbaik bagimu. Karena, aku tak ingin merusaknya. Nikmatilah yang seharusnya kau nikmati, sayang... Aku tetap di sini, menanti cinta utuhmu.
Aku akan kembali dengan apa yang seharusnya. Yah, menikmati hidupku. Cinta bukan berarti setiap hari harus bersama. Cinta bukan berarti apa-apa berdua. Tentukan apa yang kau mau, dan aku pun demikian. Yang bisa memastikan dirimu pantas/layak yah dirimu sendiri. Aku, layaknya seorang perempuan, akan ku jalani kodratku. Menanti dan menanti. Suatu saat nanti, kau sendiri yang akan mebuktikan apakah kau layak ku anggap imam dalam sholatku, nahkoda dalam pelayaranku, dan pemimpin dalam istanaku. Hanya kamu sendiri yang memiliki jawaban atas semuanya. Yang ada sekarang, nikmatilah!!! Aku tak akan membatasimu. Namun, aku hanya takut kau berlari pergi meninggalkanku. Sudahlah...
*bersambung....
Today? ngomong-ngomong tentang hari ini, tak begitu menyenangkan. dengan kondisi yang masih diserang rasa "ngilu" (baca: sakit), hati pun ikut demikian. Sebenernya aku (selalu) berharap aku menjadi aku yang daahulu: cuek, mandiri, tak tergantung dengan siapapun. Yah, bisa berdiri sendiri. namun, rasa itu terbungkus seiring dengan moment yang pernah ku alami. Kalau aku kembali seperti dulu, lalu apa bedanya? Yang seharusnya adalah, aku berubah, tak seharusnya aku menjadi seperti dulu. Namun, ketika menjadi diriku yang saat ini, rasa-rasanya aku semakin kekanak-kanakan. Inginku sewajarnya saja. Inginku apa adanya seperti yang biasa. Eh tapi... semua berubah.
Semenjak memiliki hubungan dengan seseorang secara "berdekatan" jarak-ruang-waktu (baca: bukan LDR (lagi)) semua berubah. LDR? aku tak pernah mengeluh dengan hal itu. tapi rasanya, tak ingin lagi punya hubungan LDR. apalagi memakan waktu yang tak sebentar. rasa-rasanya juga, aku telah trauma. Namun, hubungan yang berdekatan pun tak membuatku jauh lebih baik. Bagaimana tidak. rasanya selalu ingin bersama. semua itu karena kebiasaan. dan aku telah terbiasa menikmati hari-hari bersama-nya. Salah? Tidak, ku pikir aku tidak salah jika berpikir aku ingin selalu bersama dia (re: pacarku). Siapa yang tak ingin bersama pacarnya. Aku sudah (pernah) ngerasain pacaran jarak jauh, dan rasanya itu ieeyuuuhh.... sudahlah, lupakan hal itu! aku pun tak ingin mengingatnya lagi. sakit. Eh tapi, rasanya ada yang salah deh dengan hubungan "berdekatan" ini. Buat apa hubungan berdekatan namun tanpa komunikasi? Lalu, ketika bersama yang ada justru pertengkaran. saling emosi. meninggikan ego masing-masing. dan sama-sama tak mampu mengendalikan diri masing-masing. sama-sama keras, sama-sama merasa benar. jika keduanya benar, lalu mengapa bertengkar? jika tak ada yang salah, lalu apa gunanya mengalah? Ah, bukan. Ini bukan karena aku lelah. Hanya saja, aku merasa ada yang harus diperbaiki jika tak ingin semua kebahagiaan ini hanya sekedar lewat, dan bahkan ini semu. Hanya Tuhan yang tahu, ke mana dan seperti apa hidup ini.
Baiklah, harus ada yang dirubah. Ehmmm... tepatnya, harus ada revolusi hubungan, biar kagak hambar, biar kagak membosankan dan berujung di....(?) ah, cekit kalau diucapkan. baiklah baiklah, semuanya akan baik-baik saja. semua akan indah pada waktunya. dunia ini ada di genggamanku. hidupku adalah milikku.
Semakin ke sini, aku merasa aku kekanak-kanakan. Eh tapi? kembali lagi, apakah salah jika aku salah jika setiap harinya ingin selalu bersama dia (re: pacar)? Yah, kalau memang salah, baiklah... akan ku ubah wacanaku, aku akan kembali menjadi diriku, yang kuat di kaki sendiri. Ah, tapi apa lacur, sepertinya semua terlambat. Aku telah terbiasa menikmati hari tak tanpa dia. Ah iya, tidak ada kata terlambat. semua bisa dikembalikan seperti semula. Aku hanya tak ingin menggenggam cintaku teramat erat. Karena aku takut, ia justru akan terlepas tak tersisa. Aku hanya akan menggenggamnya sekuat tenagaku, memberinya ruang untuknya menikmati yang ia inginkan. Mungkin juga, saat ini bukan hanya aku hidupnya, bukan hanya diriku yang memilikinya. Aku akan membiarkannya berlari, bukan untuk meninggalkanku, melainkan berlari merengkuhku dengan cinta yang seutuhnya. Ya, suatu saat nanti. Hari itu akan tiba. Untuk saat ini, biarlah kau menentukan apa yang kau mau. Apa yang terbaik bagimu. Karena, aku tak ingin merusaknya. Nikmatilah yang seharusnya kau nikmati, sayang... Aku tetap di sini, menanti cinta utuhmu.
Aku akan kembali dengan apa yang seharusnya. Yah, menikmati hidupku. Cinta bukan berarti setiap hari harus bersama. Cinta bukan berarti apa-apa berdua. Tentukan apa yang kau mau, dan aku pun demikian. Yang bisa memastikan dirimu pantas/layak yah dirimu sendiri. Aku, layaknya seorang perempuan, akan ku jalani kodratku. Menanti dan menanti. Suatu saat nanti, kau sendiri yang akan mebuktikan apakah kau layak ku anggap imam dalam sholatku, nahkoda dalam pelayaranku, dan pemimpin dalam istanaku. Hanya kamu sendiri yang memiliki jawaban atas semuanya. Yang ada sekarang, nikmatilah!!! Aku tak akan membatasimu. Namun, aku hanya takut kau berlari pergi meninggalkanku. Sudahlah...
*bersambung....
Wednesday, January 29, 2014
ILU IMU INU Cungkriiing....
Tentang perasaan yang tak pernah ku mengerti ke mana dan untuk siapa. Pun tentang dia yang kini menjadi belahan jiwa hingga mampu menjadi warna yang tak hanya hitam dan putih. Ia lebih indah dari sekedar pelangi, ia pun lebih dari sekedar penyempurna bagiku yang tak sempurna. Ialah CINTA. Tentangku yang mencintanya tanpa batas, tanpa balasan, tanpa berharap cintanya kepadaku lebih dari yang ku punya. Aku mencintaimu lebih dari sekadar yang kau tau, Cungkring...
Terbiasa bersama, apapun yang dilakukan selalu melakukannya berdua, tak terpisah, tak lengah dan jengah, yang penting berdua. Bukan berharap selalu menyenangkan hati satu sama lain, namun kami berdua sama-sama belajar untuk saling mengerti bagaimana cara dewasa dan saling menghargai. Dia yang diciptakan olehNya tanpa ku minta, dia yang mencintaiku tanpa ku minta, dia yang telah memilihku tanpa ku minta, dia yang menjadikan aku lebih dihargai dan dikasihi tanpa ku minta, dan dia yang tak pernah lelah mengingatkan aku bila ku lakukan sebuah kekhilafan. I love you Cungkriiing...
Kebersamaan itu hari ini terasa ganjil, jauh darinya membuatku seakan ingin mati (*lebaysitik), rasa rindu padanya menghukumku hingga tak tau apa ini namanya. Jauh darinya menjadikan hampa, makan enak terasa tak enak, hidup nyanyak terasa tak nyanyak, iya... di sini terlalu memikirkan tentang yang di sana. Sedang apakah dia? bagaima keadaannya? sudahkah dia makan sudahkah dia mandi? sudahkah dia sholat? tidurkah dia dengan nyenyak? amankah dia di sana? Ah, sesungguhnya aku terlalu mengkhawatirkannya. Bagaimana tidak, aku yang menjadi alarm hidupnya, yang selalu mengingatkan ketika ia lengah akan semuanya, yang memarahinya ketika ia ingin membangkang, memeluknya ketika ia resah dan bimbang, mengatur segala macam yang ia butuhkan. Ku harap perasaan seperti ini lumrah. Yah karena aku meninggalkan seseorang yang amat sangat mencintaiku. Hheehhee :p (*hey kamu Cungkring, jangan GeeR yeeee... :*)
Cungkring, hari ini rasanya aneh, ada yang hilang, ada yang kurang. Iya, kurang kamu di sini. Yang biasanya tak henti membuatku ngakak akan tingkah konyolmu. Cungkring, kamu baik-baik aja kan? Tidurnya nyenyak kan? Tidurnya pakek kasur kan? Pakek selimut+bantal nggak? Cungkring, hari ini makan apa? Nggak apa2 ya hari ini makan sendiri? Aku makan enak tapi kurang enak soalnya nggak sepiring/sebungkus sama kamu. Hahhahaaa... Cungkring, jangan galau yaa, galaunya nunggu aku balik ke kota biar ku hibur kamu sampai tertawa terkencing-kencing. Hhehhee :)
Terbiasa bersama, apapun yang dilakukan selalu melakukannya berdua, tak terpisah, tak lengah dan jengah, yang penting berdua. Bukan berharap selalu menyenangkan hati satu sama lain, namun kami berdua sama-sama belajar untuk saling mengerti bagaimana cara dewasa dan saling menghargai. Dia yang diciptakan olehNya tanpa ku minta, dia yang mencintaiku tanpa ku minta, dia yang telah memilihku tanpa ku minta, dia yang menjadikan aku lebih dihargai dan dikasihi tanpa ku minta, dan dia yang tak pernah lelah mengingatkan aku bila ku lakukan sebuah kekhilafan. I love you Cungkriiing...
Kebersamaan itu hari ini terasa ganjil, jauh darinya membuatku seakan ingin mati (*lebaysitik), rasa rindu padanya menghukumku hingga tak tau apa ini namanya. Jauh darinya menjadikan hampa, makan enak terasa tak enak, hidup nyanyak terasa tak nyanyak, iya... di sini terlalu memikirkan tentang yang di sana. Sedang apakah dia? bagaima keadaannya? sudahkah dia makan sudahkah dia mandi? sudahkah dia sholat? tidurkah dia dengan nyenyak? amankah dia di sana? Ah, sesungguhnya aku terlalu mengkhawatirkannya. Bagaimana tidak, aku yang menjadi alarm hidupnya, yang selalu mengingatkan ketika ia lengah akan semuanya, yang memarahinya ketika ia ingin membangkang, memeluknya ketika ia resah dan bimbang, mengatur segala macam yang ia butuhkan. Ku harap perasaan seperti ini lumrah. Yah karena aku meninggalkan seseorang yang amat sangat mencintaiku. Hheehhee :p (*hey kamu Cungkring, jangan GeeR yeeee... :*)
Cungkring, hari ini rasanya aneh, ada yang hilang, ada yang kurang. Iya, kurang kamu di sini. Yang biasanya tak henti membuatku ngakak akan tingkah konyolmu. Cungkring, kamu baik-baik aja kan? Tidurnya nyenyak kan? Tidurnya pakek kasur kan? Pakek selimut+bantal nggak? Cungkring, hari ini makan apa? Nggak apa2 ya hari ini makan sendiri? Aku makan enak tapi kurang enak soalnya nggak sepiring/sebungkus sama kamu. Hahhahaaa... Cungkring, jangan galau yaa, galaunya nunggu aku balik ke kota biar ku hibur kamu sampai tertawa terkencing-kencing. Hhehhee :)
Aaaaakk... Kangen muka kamu yang abstrak itu. Kangen kamu yang sukanya nggak jelas, telmi, jayus, dan seenaknya sendiri. Dan yang jelas, kangen sama kamu yang cinta mati sama aku. Wahahhha...
Will see you next week, yah Cungkring... Sabar dikit aja, entar pasti kita berjumpa. Dan akan ku total hutang rindumu yang tak terbendung itu. Hhhihihihi :) Heppi-heppi ya sayaaank, tak apa seminggu tanpa bidadari bhuletmu, ini. Meski terpisah oleh jarak, ruang, dan waktu, namun hati kita tetap menyatu. Walau jauh di mata tapi dekat di hati. #eeeaaaa miss you so muchoo, Cungkriiing :*
Yang punya blogg ini lagi kangen sama pacarnya, jadi rada alay bin lebay dikit. Nggak papalaah... Cungkring, jaga hati yaaak! I love you to the max... :)
Friday, January 17, 2014
Hello Mellow
Dear Tuhan...
Kali ini aku tak ingin mengeluh padaMu. Tapi aku ingin curhat. Iya, curhat ala kadarnya dan yang seharusnya ku sampaikan. Hanya Kau yang mampu menjadi pendengar setiaku, Tuhan...Tak ada yang istimewa hari-hari ini, hanya saja berasa semakin berat. namun bukan berarti aku lelah dan mengalah. mungkin hanya karena kurang beruntung dan keberuntungan tak berpihak padaku. Namun aku percaya, selalu ada kebaikan dan hikmah di tengah kesukaran yang ku jalani. Ah tidak, ini bukan kesukaran, namun ini kenikmatan yang aku sendiri (mungkin) kurang mensyukurinya, maafkan aku, Tuhan.. seringkali ku lupakan diriMu, lupa mensyukuri nikmat yang Kau mampirkan padaku. akan tetapi sebisa mungkin tak pernah ku lalai wajibku menjumpaiMu 5kali dalam sehari. Tuhan, aku tau tak pernah Kau beri kesukaran yang melebihi kemampuan hambaMu yang hina ini, tapi aku selalu berlindung padaMu dari segala hal keji dan membuatku menjauhiMu. Tetap ingatkan aku, Tuhan. Hanya itu. Terima kasih telah Kau hadirkan seseorang yang mampu menjagaku dalam segala kelemahan dan kekuatanku. dalam sukar dan senangku, dalam tawa dan tangisku, dalam diam dan tingkahku. Terima kasih tetap Kau hadirkan seseorang yang mampu membuatku tetap menjadi aku yang akupun terkadang tak mengenal siapa diriku. Tetap jaga aku, Tuhan. Kapanpun-di manapun-bagaimanapun-dan dengan siapapun. Aku tau Kau akan tetap menjaga dan memelukku.
Dear yang terkasih...
Sehari ini masih ku lewati dengan lelaki yang beberapa bulan ini menjadi teman yang paling setia ngejagain. Bukan sekedar teman sih ceritanya, ia-pun kekasih, sahabat, kakak, bahkan ayah. Terima kasih Cungkring sudah mau menjaga, merangkul, bahkan senantiasa memeluk menjadi penenang yang tak terhingga. Terima kasih sudah menjadi tempat berbagi yang tak akan pernah bisa ku balas dengan apapun, kecuali dengan rasaku ini, rasa sayang dan cinta. #eeaaaa ah iya, setiap kali ingin bergombal dan menggombali lelaki cungkring itu rasanya ah, yang ada malah jayus.. gokiiilll... Si Cungkring yang mampu membuat dan mengembangkan tawa serta tangisku, dan itu adalah sebuah kenikmatan. Nikmat yang tak mampu ku lukiskan seberapa besar bahagiaku menjadi orang yang kau kasihi lebih dan lebih. Cungkring, tetap berssama yaak, dalam suka dan duka... Me lope lope to the max. :)|| Jadi inget, meski umur terkadang jadi bahan pemikiran, tapi ketika mendengar teman dekat bilang kamu begitu tulus dan sayang sama aku, rasanya aku jadi terbawa haru, rasa sayangku pun demikian padamu. Bukan, bukan karena aku meragu, akan tetapi ku rasa lumrah jika rasa berlebihku hanya karena takut membuatmu semakin jauh. Dan melihamu beberapa saat sebelum melepasmu berangkat mengejar cita, aku melihat sebersit luka dan kebingungan, aku tau... hal yang kau anggap mudah, itu sebaliknya meski sering kali kau sembunyikan luka dengan senyummu. Cungkring, aku lebih suka jika kau bagi sukarmu itu padaku. itu akan membuatku lebih adil. Aaaahh Cungkring, terima kasih sudah membuat tenang dan melapangkan pundan buat tempat bersandarku. itu membuatku lebih tenang. Maaf juga sudah memperlihatkan butiran bening yang jatuh dengan tanpa permisi padaku di hadapmu, tak ada maksud ingin memperlihatkan rapuhku, tapi itulah sisi terkecil dari seorang chikout. hahahaa :p *piisss yee cungkriing! yang jelas, I'll be there foyuuuh :))|| yang harus diinget ya cungkring, orang baik akan selalu dikelilingi orang yang baik pula. Sama, kebaikan akan mendapat kebaikan pada akhirnya. Muuuaach... :* ||Buat teman-teman yang sudah baik, semoga akupun bisa selalu baik dengan kalian, menjadi teman yang taka akan menoreh luka sekecil apapun buat kalian. senang rasanya selalu mendapat dukungan dari teman seperti kalian. Meskipun terkadang, yang tau diri kita ya kita sendiri, so tak perlu membagi segala hal dengan orang yang kalian anggap terpercaya, cukup berbagi seperlunya, tetap menjadi pribadi yang apa adanya. Yang jelas, buat semuanya yang baik sama ane, makasih udah mau membantu dan peduli. I love you all... :))
Kali ini aku tak ingin mengeluh padaMu. Tapi aku ingin curhat. Iya, curhat ala kadarnya dan yang seharusnya ku sampaikan. Hanya Kau yang mampu menjadi pendengar setiaku, Tuhan...Tak ada yang istimewa hari-hari ini, hanya saja berasa semakin berat. namun bukan berarti aku lelah dan mengalah. mungkin hanya karena kurang beruntung dan keberuntungan tak berpihak padaku. Namun aku percaya, selalu ada kebaikan dan hikmah di tengah kesukaran yang ku jalani. Ah tidak, ini bukan kesukaran, namun ini kenikmatan yang aku sendiri (mungkin) kurang mensyukurinya, maafkan aku, Tuhan.. seringkali ku lupakan diriMu, lupa mensyukuri nikmat yang Kau mampirkan padaku. akan tetapi sebisa mungkin tak pernah ku lalai wajibku menjumpaiMu 5kali dalam sehari. Tuhan, aku tau tak pernah Kau beri kesukaran yang melebihi kemampuan hambaMu yang hina ini, tapi aku selalu berlindung padaMu dari segala hal keji dan membuatku menjauhiMu. Tetap ingatkan aku, Tuhan. Hanya itu. Terima kasih telah Kau hadirkan seseorang yang mampu menjagaku dalam segala kelemahan dan kekuatanku. dalam sukar dan senangku, dalam tawa dan tangisku, dalam diam dan tingkahku. Terima kasih tetap Kau hadirkan seseorang yang mampu membuatku tetap menjadi aku yang akupun terkadang tak mengenal siapa diriku. Tetap jaga aku, Tuhan. Kapanpun-di manapun-bagaimanapun-dan dengan siapapun. Aku tau Kau akan tetap menjaga dan memelukku.
Dear yang terkasih...
Sehari ini masih ku lewati dengan lelaki yang beberapa bulan ini menjadi teman yang paling setia ngejagain. Bukan sekedar teman sih ceritanya, ia-pun kekasih, sahabat, kakak, bahkan ayah. Terima kasih Cungkring sudah mau menjaga, merangkul, bahkan senantiasa memeluk menjadi penenang yang tak terhingga. Terima kasih sudah menjadi tempat berbagi yang tak akan pernah bisa ku balas dengan apapun, kecuali dengan rasaku ini, rasa sayang dan cinta. #eeaaaa ah iya, setiap kali ingin bergombal dan menggombali lelaki cungkring itu rasanya ah, yang ada malah jayus.. gokiiilll... Si Cungkring yang mampu membuat dan mengembangkan tawa serta tangisku, dan itu adalah sebuah kenikmatan. Nikmat yang tak mampu ku lukiskan seberapa besar bahagiaku menjadi orang yang kau kasihi lebih dan lebih. Cungkring, tetap berssama yaak, dalam suka dan duka... Me lope lope to the max. :)|| Jadi inget, meski umur terkadang jadi bahan pemikiran, tapi ketika mendengar teman dekat bilang kamu begitu tulus dan sayang sama aku, rasanya aku jadi terbawa haru, rasa sayangku pun demikian padamu. Bukan, bukan karena aku meragu, akan tetapi ku rasa lumrah jika rasa berlebihku hanya karena takut membuatmu semakin jauh. Dan melihamu beberapa saat sebelum melepasmu berangkat mengejar cita, aku melihat sebersit luka dan kebingungan, aku tau... hal yang kau anggap mudah, itu sebaliknya meski sering kali kau sembunyikan luka dengan senyummu. Cungkring, aku lebih suka jika kau bagi sukarmu itu padaku. itu akan membuatku lebih adil. Aaaahh Cungkring, terima kasih sudah membuat tenang dan melapangkan pundan buat tempat bersandarku. itu membuatku lebih tenang. Maaf juga sudah memperlihatkan butiran bening yang jatuh dengan tanpa permisi padaku di hadapmu, tak ada maksud ingin memperlihatkan rapuhku, tapi itulah sisi terkecil dari seorang chikout. hahahaa :p *piisss yee cungkriing! yang jelas, I'll be there foyuuuh :))|| yang harus diinget ya cungkring, orang baik akan selalu dikelilingi orang yang baik pula. Sama, kebaikan akan mendapat kebaikan pada akhirnya. Muuuaach... :* ||Buat teman-teman yang sudah baik, semoga akupun bisa selalu baik dengan kalian, menjadi teman yang taka akan menoreh luka sekecil apapun buat kalian. senang rasanya selalu mendapat dukungan dari teman seperti kalian. Meskipun terkadang, yang tau diri kita ya kita sendiri, so tak perlu membagi segala hal dengan orang yang kalian anggap terpercaya, cukup berbagi seperlunya, tetap menjadi pribadi yang apa adanya. Yang jelas, buat semuanya yang baik sama ane, makasih udah mau membantu dan peduli. I love you all... :))
Subscribe to:
Posts (Atom)
